EPISTEMOLOGI BURHANI PDF

Epistemologi Bayani, Burhani dan Irfani 3-sempurna Definisi dari Epistemologi Secara etimologi, kata epistemologi berasal dari kata Yunani, episteme dan logos. Episteme berarti pengetahuan, sedangkan logos berarti ilmu. Jadi, epistemologi adalah teori tentang pengetahuan. Dan juga merupakan cabang filsafat yang menyelidiki asal-muasal, metode-metode dan sahnya ilmu pengetahuan. Istilah epistemologi terkait dengan : a. Filsafat, yaitu sebagai ilmu berusaha mencari hakekat dan kebenaran pengetahuan.

Author:Akijora Vuran
Country:France
Language:English (Spanish)
Genre:Personal Growth
Published (Last):10 May 2005
Pages:413
PDF File Size:2.21 Mb
ePub File Size:9.44 Mb
ISBN:183-3-34696-856-2
Downloads:86093
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Vir



Epistemologi Bayani, Burhani dan Irfani 3-sempurna Definisi dari Epistemologi Secara etimologi, kata epistemologi berasal dari kata Yunani, episteme dan logos. Episteme berarti pengetahuan, sedangkan logos berarti ilmu. Jadi, epistemologi adalah teori tentang pengetahuan. Dan juga merupakan cabang filsafat yang menyelidiki asal-muasal, metode-metode dan sahnya ilmu pengetahuan.

Istilah epistemologi terkait dengan : a. Filsafat, yaitu sebagai ilmu berusaha mencari hakekat dan kebenaran pengetahuan. Metode, yaitu sebagai metode bertujuan mengantarkan manusia untuk memperoleh pengetahuan.

Sistem, yaitu sebagai suatu sistem bertujuan memperoleh realitas kebenaran pengetahuan. Terdapat tiga persoalan pokok dalam bidang epistimologi : 1. Apakah sumber pengetahuan itu? Dari manakah datangnya pengetahuan yang benar itu? Dan bagaimana cara mengetahuinya? Apakah sifat dasar pengetahuan itu? Apa ada dunia yang benar-benar di luar pilkiran kita? Dan kalau ada apakah kita bisa mengetahuinya?

Apakah pengetahuan itu benar valid? Bagaimana kita dapat membedakan yang benar dari yang salah? Secara umum pertanyaan-pertanyaan epistimologis menyangkut dua macam, yakni epistimologi kefilsafatan yang erat hubungannnya dengan psikologi dan pertanyaan-pertanyaan semantik yang menyangkut hubungan antara pengetahuan dengan objek pengetahuan tersebut.

Epistimologi meliputi tata cara dan sarana untuk mencapai pemgetahuan. Perbedaan mengenai pemilihan ontologik akan mengakibatkan perbedaan sarana yang akan digunakan yaitu: akal, pengalaman, budi, intuisi, atau sarana yang lain. Ditunjukan bagaimana kelebihan dan kelemahan suatu cara pendekatan dan batas-batas validitas dari suatuyang diperoleh melalui suatu cara pendekatan ilmiah.

Dalam perspektif Barat dikenal adanya tiga aliran epistemologi, yaitu empirisme, rasionalisme, dan positivisme. Aliran empirisme berdasarkan pada alam, sesuai dengan penyelidikan ilmiah secara empiris. Aliran rasionalisme menganggap empirisme memiliki kelemahan karena alat indera mempunyai kemampuan yang terbatas, sehingga alat indera diposisikan sebagai alat yang menyebabkan akal bekerja. Sedangkan metode positivisme yang dikemukakan August Comte menyatakan bahwa hasil penginderaan menurut rasionalisme adalah sesuatu yang tidak jelas dan tidak sistematis.

Aliran positivisme menganggap bahwa penginderaan itu harus dipertimbangkan oleh akal, kemudian disistemisasi sehingga terbentuk pengetahuan. Epistemologi-epistemologi dalam dunia Barat tersebut memperlihatkan bahwa pengetahuan berpusat pada dua hal, indera dan rasio.

Ini menunjukkan bahwa pusat dari epistemologi adalah manusia sendiri. Didalam Islam, epistemologi tidak berpusat kepada manusia.

Manusia bukanlah makhluk mandiri yang dapat menentukan kebenaran seenaknya. Semuanya berpusat kepada Allah. Di satu pihak, epistemologi Islam berpusat pada Allah, dalam arti Allah sebagai sumber pengetahuan dan sumber segala kebenaran. Namun, bukan berarti manusia tidak penting. Di pihak lain, epistemologi Islam berpusat pula pada manusia, dalam arti manusia sebagai pelaku pencari pengetahuan. Seperti telah disebutkan pada bagian awal dari pembahasan ini, setidaknya ada tiga model berfikir yang umum dipaakai oleh banyak kalangan manusia.

Berikut akan kami uraikan tiga model berpikir yang umum dipakai dalam studi kajian islam, oleh al-Jabiri yakni : 1. Model Linguistik atau tekstual bayani , 2.

Model Demonstratif Burhani , dan 3. Epistemologi Bayani Epistimologi bayani adalah pendekatan dengan cara menganilis teks. Maka sumber epistemologi bayani adalah teks. Adapun corak berpikir yang diterapkan dalam ilmu ini cenderung deduktif, yakni mencari apa isi dari teks analisis content. Ada beberapa kritik yang muncul terhadap epistemologi bayani yang dianggap menjadi titik kelemahan dari epistemologi ini. Dalam bahasa filsafat yang disederhanakan, epistimologi bayani dapat diartikan sebagai Model metodologi berpikir yang didasarkan atas teks.

Dalam hal ini teks sucilah yang memilki otoritas penuh menentukan arah kebenaran sebuah kitab. Fungsi akal hanya sebagai pengawal makna yang terkandung di dalamnya. Untuk itu epistemologi bayani menggunakan alat bantu instrumen berupa ilmu-ilmu bahasa dan uslub-uslubnya serta asbabu al-nuzul, dan istinbat atau istidlal sebagai metodenya.

Dalam epistemologi bayani, oleh karena dominasi teks sedemikian kuat, maka peran akal hanya sebatas sebagai alat pembenaran atau justifikasi atas teks yang dipahami atau diinterpretasi. Dalam aplikasinya, pendekatan bayani akan memperkaya lilmu fikih dan ushul fikih, lebih-lebih qawaidul lughahnya. Hanya sekedar memperjelas titik kelemahan dari epistemology bayani yang kami sebutkan di atas, kelemahan mencolok pada Nalar Bayani adalah ketika harus berhadapan dengan teks-teks yang berbeda, milik komunitas, bangsa, atau masyarakat lainnya.

Karena otoritas ada pada teks, dan rasio hanya berfungsi sebagai pengawal teks, sementara sebuah teks belum tentu diterima oleh golongan lain, maka ketika berhadapan, Nalar Bayani menghasilkan sikap mental yang dogmatis, defensif dan apologetik, sehingga dari sikap ini muncul suatu konsep atau sikap, pemahaman dengan semboyan kurang lebih : "right or wrong is my country" dalam konteks ini tentu diterjemahkan : salah atau benar, yang penting inilah agama saya. Epistemologi Burhani Burhan adalah pengetahuan yang diperoleh dari indera, percobaan dan hukum -hukum logika.

Maksudnya bahwa untuk mengukur atau benarnya sesuatu adalah berdasarkan komponen kemampuan alamiah manusia berupa pengalaman dan akal tanpa teks wahyu suci, yang memuncukan peripatik. Maka sumber pengetahuan dengan nalar burhani adalah realitas dan empiris yang berkaitan dengan alam, social, dan humanities. Artinya ilmu diperoleh sebagai hasil penelitian, hasil percobaan, hasil eksperimen, baik di labolatorium maupun di alam nyata, baik yang bersifat alam maupun social.

Corak model berpikir yang digunakan adalah induktif, yakni generalisasi dari hasil-hasil penelitian empiris. Mengenai model berpikir bayani dan burhani Van Peursen mengatakan bahwa akal budi tidak dapat menyerap sesuatu, dan panca indera tidak dapat memikirkan sesuatu. Namun, bila keduanya bergabung timbullah pengetahuan, sebab menyerap sesuatu tanpa dibarengi akal budi sama dengan kebutaan, dan pikiran tanpa isi sama dengan kehampaan.

Burhani atau pendekatan rasional argumentatif adalah pendekatan yang mendasarkan diri pada kekuatan rasio melalui instrumen logika induksi, deduksi, abduksi, simbolik, proses, dll. Pendekatan ini menjadikan realitas maupun teks dan hubungan antara keduanya sebagai sumber kajian. Dari pendapat tersebut kita seharusnya bisa mengambil sikap terhadap kedua epistemology bayani dan epistemology burhani, bukan berarti harus dipisahkan dan hanya boleh mengambil atau memilih salah satu diantara keduanya.

Malah untuk menyelesaikan problem-problem social dan dalam studi islam justru dianjurkan untuk memadukan keduanya. Dari perpaduan ini muncul nalar aduktif, yakni mencoba untuk memadukan model berpikir deduktif dan model berpikir induktif. Perpaduan antara hasil bacaan yang bersifat konstektual terhadap nash dan hasil penelitian-penelitian empiris justru kelak melahirkan ilmu islam yang sempurna dan lengkap konprehensif , luar biasa, dan kelak dapat menuntaskan problem-problem masa kini khususnya di Indonesia.

Pembacaan yang ideologis dan tendensius ini, pada akhirnya akan mengarah pada apa yang oleh Khalid Abu Fadl disebut sebagai Hermaneutika Otoriter Authoritharian hermeneutic. Hermeneutika Otoriter terjadi ketika pembacaan atas teks ditundukkan oleh pembacaan yang subjektif dan selektif serta dipaksakan dengan mengabaikan realitas konteks.

Realitas yang dimaksud mencakup realitas alam kawniyyah , realitas sejarah tarikhiyyah , realitas sosial ijtimaiyyah dan realitas budaya thaqafiyyah. Dalam pendekatan ini teks dan realitas konteks berada dalam satu wilayah yang saling mempengaruhi.

Teks tidak berdiri sendiri, ia selalu terikat dengan konteks yang mengelilingi dan mengadakannya sekaligus darimana teks itu dibaca dan ditafsirkan. Karena burhani menjadikan realitas dan teks sebagai sumber kajian, maka dalam pendekatan ini ada dua ilmu penting, yaitu : 1. Ilmu al-lisan, yang pertama membicarakan lafz-lafz, kaifiyyah, susunan, dan rangkaiannya dalam ibarat-ibarat yang dapat digunakan untuk menyampaikan makna, serta cara merangkainya dalam diri manusia. Tujuannya adalah untuk menjaga lafz al-dalalah yang dipahami dan menetapkan aturan-aturan mengenai lafz tersebut.

Ilmu al-mantiq, yang membahas masalah mufradat dan susunan yang dengannya kita dapat menyampaikan segala sesuatu yang bersifat inderawi dan hubungan yang tetap diantara segala sesuatu tersebut, atau apa yang mungkin untuk mengeluarkan gambaran-gambaran dan hukum-hukum darinya. Tujuannya adalah untuk menetapkan aturan-aturan yang digunakan untuk menentukan cara kerja akal, atau cara mencapai kebenaran yang mungkin diperoleh darinya.

Dalam tradisi burhani juga kita mengenal ada sebutan falsafat al-ula metafisika dan falsafat al-thani. Gerak itu dapat terjadi pada jauhar substansi: kawn dan fasad , jumlah berkembang atau berkurang , perubahan istihalah , dan tempat sebelum dan sesudah. Dalam perkembangan keilmuan modern, falsafat al-ula metafisika dimaknai sebagai pemikiran atau penalaran yang bersifat abstrak dan mendalam abstract and profound reasoning.

Dua ilmu terakhir ini mengkaji interaksi pemikiran, kebudayaan, peradaban, nilai-nilai, kejiwaan, dan sebagainya. Oleh karena itu, untuk memahami realitas kehidupan sosial-keagamaan dan sosial-keislaman, menjadi lebih memadai apabila dipergunakan pendekatan-pendekatan sosiologi sosiulujiyyah , antropologi antrufulujiyyah , kebudayaan thaqafiyyah dan sejarah tarikhiyyah , seperti yang menjadi ketetapan Munas Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam XXIV di Malang.

Pendekatan sosiologis digunakan dalam pemikiran Islam untuk memahami realitas sosial-keagamaan dari sudut pandang interaksi antara anggota masyarakat. Dengan metode ini, konteks sosial suatu prilaku keberagaman dapat didekati secara lebih tepat, dan dengan metode ini pula kita bisa melakukan reka cipta masyarakat utama. Pendekatan antropologi bermanfaat untuk mendekati maslah-masalah kemanusiaan dalam rangka melakukan reka cipta budaya Islam.

Tentu saja untuk melakukan reka cipta budaya Islam juga dibutuhkan pendekatan kebudayaan thaqafiyyah yang erat kaitannya dengan dimensi pemikiran, ajaran-ajarn, dan konsep-konsep, nilai-nilai dan pandangan dunia Islam yang hidup dan berkembang dalam masyarakat muslim. Agar upaya reka cipta masyarakat muslim dapat mendekati ideal masyarakat utama dalam Muhammadiyah, strategi ini pula menghendaki kesinambungan historis. Untuk itu, dibutuhkan juga Pendekatan sejarah tarikhiyyah untuk mengetahui konteks sejarah masa lalu, kini dan akan datang berada dalam satu kaitan yang kuat dan kesatuan yang utuh kontinuitas dan perubahan.

Ada kesinambungan historis antara bangunan pemikiran lama yang baik dengan lahirnya pemikiran keislaman baru yang lebih memadai dan up to date. Kelemahan dan kendala yang sering dihadapi dalam penerapan pendekatan burhani ini adalah sering tidak sinkronnya teks dan realitas. Produk ijtihadnya akan berbeda jika dalam permasalahannya ada yang diutamakan antara teks atau konteks.

Sebagaimana kita ketahui bahwa masyarakat lebih banyak memenangkan tekstualitas daripada kontekstualitasnya, meskipun yang lebih cenderung kepada kontekspun juga tidak sedikit. Pendekatan irfani adalah pendekatan pemahaman yang bertumpu pada instrumen pengalam batin, dhawq, qalb, wijdan, basirah dan intuisi.

Sedangkan metode yang dipergunakan meliputi manhaj kashfi dan manhaj iktishafi. Manhaj iktishafi disebut juga al-mumathilah analogi , yaitu metode untuk menyingkap dan menemukan rahasia pengetahuan melalui analogi-analogi.

Dengan demikian, al-mumathilah adalah manhaj iktishafi dan bukan manhaj kashfi. Dengan pemaduan tersebut pengetahuan yang diperoleh menjadi pengetahuan yang mencerahkan, bahkan akan mencapai al-hikmah al-haqiqah. Pengalaman batin Rasulullah saw. Artinya, setiap orang dapat melakukan dengan tingkatan dan kadarnya sendiri-sendiri, maka validitas kebenarannya bersifat intersubyektif dan peran akal bersifat partisipatif. Sifat intersubyektif tersebut dapat diformulasikan dalam tahap-tahap sebagai berikut.

Pertama-tama, tahapan persiapan diri untuk memperoleh pengetahuan melalui jalan hidup tertentu yang harus ia ikuti untuk sampai kepada kesiapan menerima "pengalaman". Selanjutnya tahapan pencerahan dan terakhir tahap konstruksi. Kedekatan kepada Tuhan yang transhistoris, transkultural, dan dan transreligius diimbangi rasa empati dan simpati kepada orang lain secara elegan dan setara.

KASTRASI KUCING PDF

Jurnal Doc : jurnal epistemologi islam bayani burhani dan irfani

Metode, sistem dan model pemahaman yang digunakan sangat menentukan produk dari sebuah pengetahuan. Karena itu, problem rusaknya pemikiran, kerancuan dan keraguan dalam memahami pengetahuan yang dialami oleh manusia umumnya, akibat dari kekeliruan epistemologi. Ketiga tokoh tersebut telah memberi corak bagi pemikiran Islam yang sangat bergantung pada dimensi teks, oleh karena itu dunia Arab-Islam disebut sebagai peradaban teks. Epistemologi merupakan cabang filsafat yang membicarakan tentang asal muasal, sumber, metode, struktur dan validitas atau kebenaran pengetahuan. Dalam kaitannya dengan ilmu, landasan epistemologi mempertanyakan bagaimana proses diperolehnya ilmu pengetahuan, bagaimana prosedurnya, hal-hal apa yang harus diperhatikan agar mendapatkan pengetahuan yang benar, apa yang disebut dengan kebenaran itu sendiri, apa kriterianya, dan cara atau tekniknya atau sarana apa yang membantu dalam proses mendapatkan ilmu pengetahuan. Pada dasarnya metode ilmiah merupakan cara ilmu memperoleh dan menyusun tubuh pengetahuannya, berdasarkan; a kerangka pemikiran yang bersifat logis dengan argumentasi yang bersifat konsisten dengan pengetahuan sebelumnya yang telah berhasil disusun, b menjabarkan hipotesis yang merupakan deduksi dari kerangka pemikiran tersebut, c melakukan verifikasi terhadap hipotesis guna menguji kebenaran pernyataannya secara faktual. Cara mengetahui kebenaran disini ada tiga macam.

40E210U MANUAL PDF

Makalah Filsafat Pengertian Epistemologi Bayani, Irfani dan Burhani

Makalah ini disusun untuk memenuhi Ujian Tengah Semester II mata kuliah Filsafat Ilmu yang berisikan mengenai sistem berfikir dalam Islam, yakni bayani, burhani dan irfani, yang masing-masing mempunyai pandangan yang berbeda tentang pengetahuan. Saya menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun saya kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini. Akhir kata saya ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini, khususnya kepada Bapak Kholid Zamzami, M. Si selaku dosen pengampu mata kuliah, yang senantiasa memberikan bimbingan serta pengajarannya pada saya dan teman-teman seperjuangan. Semoga Allah SWT meridhai segala usaha kita semua. Ia tidak hanya sekedar berbicara tentang aliran-aliran pemikiran, apalagi sekedar uraian tentang sejarah perkembangan pemikiran Islam lengkap dengan tokoh-tokohnya, tetapi lebih merupakan bahasan tentang proses berfikir kritis, analisis dan sistematis. Dalam kajian epistemologi barat, dikenal ada tiga aliran pemikiran, yakni empirisme, rasionalisme dan intuisisme.

AKAI S6000 MANUAL PDF

Makalah Epistemologi Burhani___

Epistemologi membahas tentang hakikat pengetahuan dan dalam hal ini terbagi kepada dua aliran yakni, realisme dan idealisme. Namun ada beberapa penjelasan tentang hakikat pengetahuan ini sendiri. Realisme menyatakan hakikat pengetahuan adalahapa yang ada dalam gambar atau copy yang sebenernya dari alam nyata. Gambaran atau pengetahuan yang ada dalam akal adalah copy asli yang terdapat diluar akal.

Related Articles